Marni

Di kampung kami, setiap malam Minggu ada saja yang mengadakan pagelaran dangdut. Entah Si A yang sedang menikahkan anaknya lalu menanggap dangdut semalam suntuk. Atau juga Si B yang menyunatkan anak laki-lakinya lalu menyewa biduan untuk menghibur tamu undangan. Dalam sebulan hampir bisa dipastikan minimal ada dua sampai tiga kali hajatan yang menyajikan hiburan dangdut. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa sampai enam kali hiburan dangdut sambung-menyambung.

Read More

Kang Sarap

Sejak pindah ke kampung ini, aku tak tahu persis siapa Kang Sarap dan mengapa orang menamainya demikian. Mungkin sikap dan gerak-geriknya yang ganjil membuat sebagian besar orang memilih untuk menghindarinya, kecuali beberapa gelintir saja.

Pakaian sehari-hari Kang Sarap adalah sebuah baju lusuh berwarna biru tua, dan celana hitam yang juga tak kalah lusuh. Menurutku, sebenarnya yang membuat orang takut dan cenderung menghindari Kang Sarap hanya dua hal: matanya yang merah dan bau badannya. Sorot matanya membuat remaja yang paling bengal sekalipun memlilih untuk lari jika menemuinya di taman seberang Kantor Kelurahan.

Read More

Senyum Sari

Setelah memarkirkan motor di halaman parkir, aku langsung menuju lobi kantor. Ku lewati pintu detector, lalu bergegas menuju lift dan menekan tombol 15. Begitu sampai di ruang kerja, aku memasukkan kartu pegawaiku untuk absen. Beberapa orang sudah datang dan duduk pada meja kerjanya. Beberapa lagi sarapan di meja bundar dekat televisi, sambil menonton acara berita pagi. Setelah menyapa beberapa rekan sesama pegawai, aku pun menuju sudut ruangan sebelah kiri dekat jendela. Karena terhitung pegawai yang relatif baru, mejaku berada agak pojok ke belakang.

Read More

Resolusi Sarip*

(*disarankan membaca cerita ini dengan logat orang Medan)

Malam ini mungkin adalah puncak dari segalanya bagi kawanku, Sarip. Sesuatu yang sudah dipendamnya delapan belas tahun. Rentang waktu yang cukup panjang bagi seorang pemuda yang selalu menghabiskan Malam Minggu dengan melahap mie rebus sambil menyaksikan ajang pencarian bakat di televisi.

Jauh-jauh hari rencana itu sudah ia pikirkan. Agar terencana dengan baik, ia tuliskan pada sebuah kertas A3 dan menempelkannya pada dinding kamar, di atas tempat tidur. Bolehlah ia dikatakan sebagai resolusi. Besar-besar ia tuliskan dengan huruf kapital:

TAHUN 2016: AKU HARUS MENDAPATKAN JODOH

Read More