Resensi Buku: Bibir dalam Pispot

#ReadingChallenge2020 Buku Kelima

 

Beberapa tahun lalu saya kenal nama Almarhum Hamsad Rangkuti lewat cerpennya yang nakal sekaligus fenomenal “Maukah Kau Menghapus Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?” di buku Derabat – Kumpulan Cerpen Kompas Tahun 1999. Dari sana seingat saya, beberapa cerpennya masuk kembali ke Kumpulan Cerpen Kompas di tahun-tahun berikutnya.

Buku ini, Bibir dalam Pispot, adalah karya Hamsad yang terpilih sebagai pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa di tahun 2003 untuk kategori prosa.16 cerita pendek yang tersaji dalam buku ini memang istimewa, beberapa nomornya.

Hamsad adalah penulis yang lahir dari segala keterbatasan fasilitas kepenulisan saat itu. Pria kelahiran 1943 ini tinggal di Kota Kisaran, 200 kilometer dari kota Medan yang tidak memiliki perpustakaan. Untunglah Pak Bupati berbaik hati memampang koran-koran yang terbit dari Ibu Kota Provinsi pada papan temple di halaman kantornya. Hamsad kecil betah berlama-lama membaca apa yang ada di sana.

Judul Lagu di Atas Bus yang ditulis pada 1981 rasanya masih relevan hingga saat ini. Mengisahkan tentang kondisi di dalam bus di mana setiap penumpang menginginkan lagu favoritnya diputar di tape recorder yang ada di bus tersebut. Berurutan mereka yang meminati jazz, disko, keroncong, dangdut, pop sampai lagu-lagu daerah. Semua itu membuat sopir bingung, karena belum selesai lagu diputar, sudah ada keluhan untuk menggantinya dengan lagu lain.

Sampailah seorang berseragam hijau dengan dua buah pistol, mengajukan lagu favoritnya untuk diputar.

“Saya ingin diputar lagu Indonesia Raya!” katanya membentak.

Sang Sopir sempat gugup, karena ternyata ia tidak punya kaset lagu Indonesia Raya. Lalu, ia ingat sesuatu, dan beranjang ke kerangjang sampah. Ia tuangkan isinya, dan benar saja, kaset itu keluar dari keranjang itu. Akhirnya lagu itu diputar.

Di tengah lagu diputar, ada suara meminta lagu untuk ditukar.

“Tidak! Lagu Indonesia Raya itu tidak boleh ditukar. Kita harus mendengarkannya sampai selesai!”

*Ada beberapa nomor lain yang menarik untuk ditelusuri seperti Petani itu Sahabat Saya, Ketupat Gulai Paku, Wedang Jahe dan Kunang-Kunang. Sebuah buku yang sangat recommended oke bagi peminat cerita pendek, khususnya cerita pendek dengan tema-tema kemanusiaan, kemiskinan dan absurditas.

 

 

Mochammad Taufik

Tangerang Selatan, Januari 2020

 

#BibirDalamPispot #HamsadRangkuti #ReviewBuku #ReadingChallenge2020 #KumpulanCerpen #Cerpen #ResensiBukuPepatahPamulang #PepatahPamulang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *