Resensi Buku: Teh dan Pengkhianat

#ReadingChallenge2020 Buku Kedua

Tidak berlebihan kiranya bila buku ini menjadi pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa di tahun 2019 lalu untuk kategori prosa. Lewat 13 cerita pendek berlatar sejarah kolonial, Iksana Banu seperti menawarkan sebuah pintu lain bagi kita untuk memahami sejarah lewat tutur sastra. Sesuatu yang sebetulnya bukan kali pertama, namun lapangan permainannya masih teramat lapang dan kosong untuk diisi.

Mengulang kesuksesan Semua untuk Hindia, Iksana Banu semakin mengukuhkan bahwa ia memang menaruh minat yang amat serius pada Sejarah Kolonial. Rasa-rasanya hampir di semua cerpen di buku ini, ia selalu menjadikan tokoh “Aku” sebagai orang Belanda atau minimal Indo.

Semisal pada cerita Kutukan Lara Ireng, yang mengisahkan tentang tokoh “Aku”, seorang Agen Polisi bernama Bernard Eigensteen, yang ditugaskan di tempat baru sebagai Polisi Laut di bawah pimpinan Kapten Frederick Zwarteboom. Sang Kapten mengingatkan bahwa pekerjaannya yang baru adalah pekerjaan berbahaya. Menghadapi penyelundup opium yang bersenjata bukanlah tugas sembarangan.

Dibantu para opas laut Bumiputra, detasemen ini sudah berjalan selama hampir empat tahun. Sebetulnya jumlah opium resmi yang dipasok pemerintah tidaklah banyak, hanya saja pajak yang harus dipenuhi oleh para Hoofdpachter/Bandar Besar teramat tinggi. Opium selundupan menjawab ketimpangan ini.

Sampailah di hari pertarungan. Kapal Singasari andalan mereka berlayar, hendak melakukan penyergapan di Selat Madura. Menjelang fajar, kapal yang juga berukuran besar berjalan menuju kapalnya dengan iringan empat perahu jungkung. Rupanya kapal penyelundup itu sudah dihadang armada kepolisian. Mereka hendak menuju Pegatan, Borneo untuk menjual Opiumnya.

Sebenarnya tak bisa juga dibilang penyergapan, karena sudah diatasi oleh polisi Selat Madura. Setelah opium diangkut ke Singasari, Sang Kapten malah mengacungkan pistol ke Bernard, memilihnya untuk ikut ke Pegatan untuk mengabil bagian penjualan Opium atau berpisah dengannya.

Sebuah buku yang recommended bagi penyuka sejarah pemula seperti saya (dan mungkin Anda).

 

 

Mochammad Taufik

Tangerang Selatan, Januari 2020

 

#TehdanPengkhianat #IksanaBanu #ReviewBuku #ReadingChallenge2020 #Kolonialisme #Batavia #ResensiBukuPepatahPamulang #PepatahPamulang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *