Resensi Buku: Semua Untuk Hindia

 

#ReadingChallenge2020 Buku Pertama.

Sebetulnya saya baru saja mengenal nama Iksana Banu sekitar 2-3 tahu lalu kala karyanya “Semua untuk Hindia” didapuk menjadi pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa di tahun 2014 kategori prosa. Namun saat itu namanya belum mengusik saya. Saat tahun lalu ia memenangi kembali kategori prosa Kusala Sastra Khatuistiwa tahun 2019 lewat “Teh dan Pengkhianat, mulailah rasa penasaran saya terbit.

Saya mungkin termasuk sebagian dari mereka tipe pembaca amatir yang cukup lama menimbang-nimbang, apa kiranya buku yang akan dibaca sebagai pembuka awal tahun? Yang tentu diharapkan menjadi jalan bagi kesungguhan membaca buku-buku berikutnya.

Sampailah buku ini saya pilih menjadi pembuka awal tahun 2020 ini. Terdiri dari 13 cerita pendek,Iksana Banu mungkin sengaja memilih karir kepenulisan bukunya dengan citra sebagai “Spesialis Cerita Kolonialisme” yang jarang digarap oleh para penulis Indonesia.

Beberapa nomornya penuh dengan kejutan, semisal pada judul “Bintang Jatuh” yang mengisahkan tentang seorang Letnan bernama Goedaerd yang diberi tugas oleh Kapten Twijfles untuk mengeksekusi seorang Gubernur Jenderal Gustaaf Willien von Imhoff (Jabatan tertinggi di Hindia Belanda saat itu), karena konflik kekuasaan yang terjadi. Sampai-sampai istri dan anaknya akan ikut terseret apabila ia gagal apalagi menolak penugasan.

Di judul “Pollux” kejutan lain muncul, Letnan Renard, seorang berkebangsaan Belgia, sebagai tawanan kompeni yang ditawan setelah di penjara selama sehari. Saat akan dikirim ke Manado, sampailah ia di Pelabuhan Sunda Kelapa, dalam lemah tubuhnya setelah dihajar algojo sipir penjara, ia bertemu sesosok berjubah putih.

Sorban putih yang ekornya berkibar tertiup angin. Penampilannya sederhana. Sedikit jangkung bagi orang sebangsanya. Tatapan matanya teramat tajam, sehingga menyulitkan untuk menebak, apakah ia sedang menyusun sebuah senyum atau menahan amarah.

Ia berlutut, menggenggam selimut penutup tubuh Letnan, lalu dengan sangat terlatih membersihkan wajah Letnan dari noda darah. Setelah selesai, ia menoleh berbicara kepada pembesar Belanda di belakangnya. Tak lama kemudian borgol dilepaskan dari tangan Letnan.

Seketika ia jadi teringat cerita Phillipe di penjara kemarin. Mungkinkah dia Pangeran Jawa berhati singa itu?

*Sebagai informasi, sebelum diasingkan ke Manado, Pangeran Diponegoro ditawan di lantai dua Balai Kota Batavia.

 

 

Mochammad Taufik

Tangerang Selatan, Januari 2020

#SemuaUntukHindia #IksanaBanu #ReviewBuku #ReadingChallenge2020 #Kolonialisme #Batavia #ResensiBukuPepatahPamulang #PepatahPamulang

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *