Resensi Buku: Mengincar Bung Besar

Di balik kebesaran namanya yang amat dielu-elukan sebagian besar rakyat Indonesia, ternyata tidak mudah menjadi seorang Sukarno. Buku yang berjudul Mengincar Bung Besar ini, yang kemarin sempat ramai karena dirazia oleh aparat di Padang – Sumatera Barat, setidaknya mencatat ada 7 kali upaya pembunuhan kepada Putra Sang Fajar tersebut.

Para pengagum yang mempelajari Bung Karno tentu tahu bahwa Peristiwa Cikini pada tahun 1957 adalah termasuk aksi paling mula untuk percobaan pembunuhan kepadanya. Lima granat yang dilemparkan ke mobilnya selepas Beliau menghadiri acara di Sekolah Cikini, tempat Guntur dan Megawati bersekolah hampir-hampir menghilangkan nyawanya. Beruntung ia selamat.

Sebuah dokumen yang tersimpan di Dokumentasi Sejarah TNI menyebutkan kalau perintah pembunuhan datang langsung dari S.M. Kartosoewirjo. Kata dia, seperti dikutip dari dokumen pemeriksaan itu, “tak boleh ada matahari kembar”.

Lalu ada percobaan pembunuhan dari seorang pilot bernama Daniel Maukar. Kisahnya berawal dari kekecewaan beberapa tokoh militer dan sipil di Sumatera dan Sulawesi terhadap pemerintah pusat. Saat itu mereka merasa diperlakukan tidak adil akibat perimbangan keuangan yang jomplang. Orientasi politik Sukarno yang dianggap condong ke kiri semakin mematangkan situasi konflik.

Kekecewaan itu berujung pada gerakan perlawanan. Di Makassar, digagas piagam Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta). Setahun kemudian Permesta menggabungkan diri dengan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Daniel dianggap amat mumpuni karena ia adalah pilot yang handal, dan punya akses langsung terhadap aset-aset milik Angkatan Udara seperti pesawat MiG 17 yang dikendalikannya sendiri.

Dalam sebuah pertemuan di Bandung, ditentukan bahwa sasaran tembak Daniel adalah Istana Merdeka, tangki bahan bakar di Tanjung Priok dan Istana Bogor. “Jakarta adalah titik kunci. Sebetulnya mudah saja menguasai Jakarta. Yang dibutuhkan adalah lapangan terbang Kemayoran. Dari situ tinggal mengebom kilang minyak di Tanjung Priok. Kalau kilang minyak sudah dibom, Jakarta dan Bandung akan lumpuh”.

Daniel memenuhi kebutuhan itu. Rabu siang, 9 Maret 1960, ia mendapatkan kesempatan menerbangkan jet MiG 17 dalam rangka latihan. Tugas latihan ke selatan Jakarta diabaikannnya. Dari ketinggian 2.800 kaki, ia menukikkan MiG 17 lalu memberondong tangki bahan bakar di Tanjung Priok hingga meledak.

Selesai dengan misi pertama, ia melesatkan pesawatnya menuju Istana Merdeka. Dia datang dari arah selatan, menembak bagian depan istana yang menyebabkan kaca dan tembok hancur berantakan. Nasib Sukarno mujur. Ia sedang tak berada di Istana siang itu. Presiden sedang menghadiri sidang di Dewan Nasional yang gedungnya hanya berjarak 20 meter dari Istana Merdeka.

“Salah satu peluru yang ditembakkan dari udara tersebut, tepat mengenai tempat di mana Bung Karno sering duduk di kursi pada pagi hari,” kata ajudan Bung Karno, Mangil Martowidjojo dalam memoarnya, Kesaksian Tentang Bung Karno 1945-1967.

Dua percobaan pembunuhan besar lainnya adalah kala sebelum Bung Karno menghadiri acara di Gedung Olahraga Mattoangin, Makassar. Peristiwa Penembakan itu kini dikenal dengan Peristiwa Cenderawasih. Satu lainnya juga terjadi di Makassar yang dikenal dengan Peristiwa Mandai. Keduanya berhubungan dengan kegiatan makar dari kelompok tertentu. Yang kedua adalah kelompok Abdul Qahhar Mudzakkar.

Percobaan pembunuhan lainnya adalah saat Idul Fitri dan Idul Adha pada tahun 1962. Setelah dilakukan pemeriksaan, terungkap bahwa pelaku adalah anggota dari DI/TII pimpinan S.M. Kartosoewirjo. Kartosoewirjo pun ditangkap pada 5 Juni 1962, dan dinyatakan bersalah karena berupaya makar dan berupaya membunuh Kepala Negara secara berturut-turut. Ia pun dijatuhi hukuman mati.

 

Mochammad Taufik

Pamulang, Februari 2019

2 thoughts to “Resensi Buku: Mengincar Bung Besar”

  1. Saya sdah lama cari buku ini di Togamas susah sekarang untuk buku-buku sejarah yg sensitif πŸ˜€
    Ternyata jadi salah satu judul yang dirazia aparat juga ya, makasih infonya. Sepertinya bakal tetep susah cari bukunya di toko buku toko buku biasa πŸ˜‚
    Terimakasih revuew nya ya kak

    1. Sama-sama ya Mbak.

      Menurut saya kemarin cuma rame sesaat aja Mbak. Kalo ditilik lebih lanjut, masih cukup gampang kok dapetin buku-buku seperti ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *